Jawa menyimpan sejuta kearifan dan falsafah kehidupan. Kehidupan orang Jawa yang kental dengan perilaku spiritualnya menandakan kearifan paling tinggi. Sikap yang ditunjukkan wong Jawa merupakan implementasi dari sebuah filosofi kehidupannya.
Jawa terkenal dengan sikap yang penuh kearifan. Dalam kehidupannya, orang Jawa menggunakan olah rasa di setiap tindak tanduknya. Kearifan tersebut diturunkan secara genetik dalam kehidupan bermasyarakat. Kearifan orang Jawa senantiasa diperlihatkan dalam setiap langkah dan cara berkomunikasi. Keramahan merupakan salah satu kearifan yang dihargai betul oleh orang Jawa.
Dalam interaksi kehidupannya, orang Jawa menggunakan batin dan tingkat kepekaannya. Kepekaan tersebut didapatkan dari olah rasa yang panjang dan dilakukan secara kontinu. Olah rasa menjadi fondasi dari segala tindakan yang dilakukan masyarakat Jawa.
Barangkali kita sendiri sering merasakan rasa pakewuh, tidak enak hati, rendah diri, bodoh, dan sebagainya. Sebenarnya rasa tersebut merupakan produk dari olah rasa yang barangkali tidak kita sadari. Niels Mulder (2009) meneliti olah rasa yang dalam masyarakat Jawa merupakan filosofi kehidupan yang paling tinggi. Dari olah rasalah, masyarakat Jawa mampu membentuk kehidupan bermasyarakat yang penuh keharmonisan. Saling menolong, gotong royong, dan bahu-membahu merupakan manifestasi olah rasa tersebut. Hal itu masih bisa kita temukan di masyarakat pedesaan. Sebab masyarakat desa masih kental dengan olah rasa. Tingkat intensitas olah rasa yang dilakukan orang Jawa sangat berpengaruh terhadap tindakannya.
Olah rasa merupakan aktivitas batin yang dilakukan guna mencari sebuah kearifan laku (Paul Stange, Politik Perhatian, Rasa dalam Kebudayaan Jawa; 2009). Orang akan mencapai tingkat spiritual tinggi jika olah rasa yang dilakukannya benar-benar efektif. Pemberdayaan olah rasa akan menghantarkan manusia kepada derajat yang lebih tinggi. Dalam budaya Islam, tingkat spiritualitas didapatkan dari pengisian sifat-sifat ilahi dalam batin. Pengisian tersebut bisa dilakukan dengan cara melakukan ajaran-ajaran agama.
Olah rasa ini akan menghantarkan manusia pada tingkatan budi yang lebih tinggi. Sifat kecongakan dan nafsu akan sirna dengan seringnya olah rasa yang dilakukan. Sebab olah rasa memosisikan diri si pelaku kepada posisi di luar dirinya sendiri. Olah rasa yang paling tinggi ialah dengan meleburkan jiwa kepada Tuhan sehingga yang didapatkan dari olah rasa ini adalah sebuah penyatuan manusia dengan Tuhan. Manunggaling kawula gusti merupakan tingkatan spiritual yang sangat tinggi. Hal itu hanya bisa diperoleh dengan olah rasa. Dengan demikian, olah rasa menjadi medium paling tepat digunakan untuk bertemunya manusia dengan Tuhannya.
Syeh Siti Jenar yang dikenal dengan tingkat spiritualitas tinggi membutuhkan waktu yang lama untuk berolah rasa. Pencarian Tuhan ia temukan dengan mengesampingkan sifat manusia. Jika seseorang mampu meleburkan dirinya dalam sifat ketuhanan maka yang akan ia lihat hanyalah Tuhan. Tidak ada yang dilihatnya di dunia ini kecuali Tuhan. Di mana pun ia berada yang dilihat hanyalah Tuhan. Tak pelak jika kemudian Syeh Siti Jenar menampakkan perilaku yang tak sama dengan manusia lainnya.
Hal ini juga dialami Syeh Mutamakkin yang makamnya berada di Pati. Dengan tingginya tingkat spiritual yang ia dapatkan, ia harus berurusan dengan pengadilan Prabu Mangkurat IV (S Soebardi, Serat Cebolek, Kuasa Agama, Pembebasan; 2004).
Olah rasa yang berujung pada tingginya tingkat spiritualitas terkadang direspons negatif oleh khalayak. Sebab perilaku orang yang telah mengalami puncak spiritualitas, ia akan menampakkan perilaku yang tak sama dengan masyarakat pada umumnya. Ia dipandang nyeleneh, berbeda dan menyesatkan, sehingga mereka kerap mengalami tragedi.
Keharmonisan
Olah rasa dalam kehidupan bermasyarakat menitikberatkan pada sebuah tatanan sosial yang dipenuhi kearifan dan kebijaksanaan. Keharmonisan dan keselarasan hidup merupakan prioritas utama dalam olah rasa sehingga orang Jawa terkenal dengan keramahannya terhadap kaum pendatang. Masyarakat Jawa sangat permisif dengan kebudayaan asing yang masuk di Jawa. Pintu rumah orang Jawa selalu terbuka lebar untuk siapa saja yang ingin bertamu. Dengan berprinsip keselarasan, orang Jawa mau menerima kebudayaan asing yang dinilai baik. Olah rasa ini menghantarkan masyarakat Jawa dengan sifat eksklusifnya. Masyarakat Jawa tidak menolak kebudayaan asing yang mampu menghantarkan hubungan harmonis dalam kehidupan sosial. Akan tetapi, mereka tetap menjaga kebudayaannya sendiri yang masih relevan dan dipandang mampu mendatangkan kebaikan bermasyarakat.
Olah rasa sekarang ini kerap dikesampingkan oleh kebanyakan masyarakat. Olah rasa sejatinya menginginkan tatanan sosial yang penuh ketenteraman. Konflik yang kerap terjadi di kalangan masyarakat Jawa acap kali menimbulkan sebuah ketakutan dan trauma mendalam dalam kehidupan orang Jawa (F Budi Hardiman; 2005). Dengan demikian, prasangka menjadi fenomena yang lumrah. Prasangka ini akan menimbulkan konflik yang tak akan pernah usai. (Alo Liliweri; 2009)
Olah rasa yang seharusnya bisa menjadi media persatuan, keselarasan, dan keharmonisan hidup ternyata sekarang sulit diidentifikasi. Olah rasa yang dilakukan mayoritas masyarakat sekarang sering diwarnai prasangka negatif. Dengan dalih waspada, prasangka ini diamini khalayak.
Ko Pin Ho pernah mencontohkan dalam karya fenomenalnya bahwa prasangka hanya akan menimbulkan konflik dan perpecahan. Masyarakat Jawa sekarang sudah tak lagi memiliki karakter yang diamsalkan Ko Pin Ho dalam tokoh novelnya, Bukek Siansu. Bocah ajaib yang menjadi tokoh dalam novel ini seharusnya bisa menginspirasi masyarakat. Sin Liong, si bocah ajaib yang penuh kebijaksanaannya, bisa menjadi amsal yang akan menghantarkan masyarakat pada ketenteraman. Namun, hal tersebut harus bisa terefleksikan dalam setiap individu masyarakat sekarang.
Oleh: M ABDUL ROHIM Esais dan Wakil Direktur Paradigma Institute Kudus, Jawa Tengah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar