Minggu, 26 Desember 2010

Menyelamatkan APBD Banyuwangi tahun 2011

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah instrumen kebijakan yang utama bagi pemerintah daerah. Sebagai instrumen kebijakan, APBD menduduki posisi sentral dalam upaya pengembangan kapabilitas dan efektivitas pemerintahan daerah. APBD digunakan sebagai alat untuk menentukan besar pendapatan dan pengeluaran, membantu pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan, otorisasi pengeluaran dimasa yang akan datang, sumber pengembangan ukuran standart untuk evaluasi kinerja, alat untuk memotivasi para pegawai, dan alat motivasi bagi semua aktivitas dari berbagai unit kerja.

Menurut Suparmoko, anggaran pada dasarnya adalah sistem penyusunan dan pengelolaan anggaran daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja. Kinerja tersebut harus mencerminkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik, yang berarti harus berorientasi pada kepentingan publik. Merupakan kebutuhan masyarakat daerah untuk menyelenggarakan otonomi secara luas, nyata dan bertanggung jawab dan otonomi daerah harus dipahami sebagai hak atau kewenangan masyarakat daerah untuk mengelola dan mengatur urusannya sendiri.

Kegembiraan terhadap selesainya pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten Banyuwangi tahun 2011 pada 13 Desember 2010, merupakan kegembiraan Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Artinya kegembiraan tersebut masih belum menyentuh kepada masyarakat Banyuwangi secara langsung, karena masih banyak proses yang harus dilakoni sampai pada alokasi APBD dapat disalurkan dan direalisasikan dengan baik.

Pada umumnya masyarakat kabupaten Banyuwangi merasa gembira terkait pengesahan APBD tahun 2011, namun perlu dipahami bahwa kegembiraan tersebut hanya sebatas bangga pada kinerja Pemerintah Daerah dan DPRD dalam hal pengesahan APBD tahun 2011. Kebanggaan ini terlepas pada persoalan apakah masyarakat bangga terkait isi APBD dan terlepas apakah bangga karena APBD sesuai dengan harapan masyarakat.

Pengalaman tahun – tahun kemarin dapat dijadikan refrensi tentang realisasi pencairan Anggaran Dana Desa (ADD) yang sangat mengecewakan. Hal ini dikarenakan, pertama, ADD yang merupakan perkiraan atau perhitungan mengenai penerimaan dan pengeluaran kas desa untuk periode yang akan datang, tidak berjalan maksimal sebab pencairan ADD tersendat – sendat dan memakan waktu yang sangat lama.

Kedua, dalam proses pencairan ADD, banyak sekali oknum di kecamatan dan daerah yang meminta jatah dengan bahasa titipan – seperti, …ojo lali nang isun ya? …isun, riko weni pirang persen? – dan jika titipan itu tidak di-iya-kan oleh pihak desa, maka pencairan ADD pada desa yang bersangkutan dipersulit dan tidak segera dicairkan.

Persoalan – persoalan sama yang dalam pencairannya berbelit – belit sesungguhnya juga banyak terjadi pada anggaran pemberdayaan – pemberdayan yang lewat Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD). Oleh karena itu, Paradigma yang perlu dibangun dalam pelaksanaan fungsi anggaran, menurut Mardiasmo adalah, (1) Anggaran daerah harus bertumpu pada kepentingan publik. (2) Anggaran daerah harus dikelola dengan hasil yang baik dan biaya rendah (work better and cost less). (3) Anggaran daerah harus mampu memberikan transparansi dan akuntabilitas secara rasional untuk keseluruhan siklus anggaran. (4) Anggaran daerah harus dikelola dengan pendekatan kinerja (performance oriented) untuk seluruh jenis pengeluaran maupun pendapatan. (5) Anggaran Daerah harus mampu menumbuhkan profesionalisme kerja disetiap organisasi yang terkait. (6) Anggaran daerah harus dapat memberikan keleluasaan bagi para pelaksananya untuk memaksimalkan pengelolaan dana dengan memperhatikan prinsip value for money.

Maka kedepan, kinerja pemerintah daerah dan DPRD hendaknya dimaksimalkan dengan niat mengabdi pada negara, khususnya Banyuwangi. Selain itu partisipasi masyarakat pada umumnya sangatlah penting untuk bersama – sama pemerintah daerah dan DPRD dalam menjaga dan menyelamatkan APBD kabupaten Banyuwangi tahun 2011.

Rabu, 22 Desember 2010

Baik... Perangai Hidup Setiap Waktu

Pada dasarnya memperingati hari – hari besar bertujuan untuk :
  1. Mengenang kembali peristiwa yang telah lalu.
  2. Mengambil hikmat atau nilai baik kala itu (Refrensi).
  3. Mendesain untuk kehidupan masa sekarang dan kedepan.
 Sangatlah konyol, jika sehari – hari tidak me-Lakoni yang Apik.

Januari :
1 Januari : Hari Perdamaian Dunia
1 Januari : Tahun Baru
3 Januari : Hari Departemen Agama
5 Januari : Hari Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal)
15 Januari : Hari Peringatan Laut dan Samudera
25 Januari : Hari Gizi dan Makanan
25 Januari : Hari Kusta Internasional

Februari :

5 Februari : Hari Peringatan Kapal Tujuh
9 Februari : Hari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
9 Februari : Hari Kavaleri
13 Februari : Hari Persatuan Farmasi Indonesia
14 Februari : Hari Peringatan Pembela Tanah Air (PETA)
15 Februari : Hari Pembantu Rumah Tangga (PRT)
19 Februari : Hari KOHANUDNAS
22 Februari : Hari Istiqlal
28 Februari : Hari Gizi Nasional

Maret :

1 Maret : Hari Kehakiman Nasional
1 Maret : Hari Peringatan Serangan Umum di Yogyakarta
6 Maret : Hari Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad)
8 Maret : Hari Wanita/Perempuan Internasional
9 Maret : Hari Musik Nasional
10 Maret : Hari Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi)
11 Maret : Hari Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar)
18 Maret : Hari Arsitektur Nasional
22 Maret ; Hari air sedunia
23 Maret : Hari Meteorologi Sedunia
24 Maret : Hari Peringatan Bandung Lautan Api
27 Maret : Hari Klub Wanita Internasional
    (bahasa Inggris: Women International Club Day – WIC)
30 Maret : Hari Film Nasional

April :

1 April : Hari Bank Dunia
6 April : Hari Nelayan Nasional
7 April : Hari Kesehatan Internasional
9 April : Hari Penerbangan Nasional
9 April : Hari TNI Angkatan Udara
13 April : Hari Lima Puluh Kota
16 April : Hari Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
18 April : Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika
19 April : Hari Pertahanan Sipil (Hansip)
21 April : Hari Kartini
22 April : Hari Bumi
24 April : Hari Angkutan Nasional
24 April : Hari Solidaritas Asia-Afrika
27 April : Hari Permasyarakatan Indonesia

Mei :

1 Mei : Hari Peringatan Pembebasan Irian Barat
1 Mei : Hari Buruh Sedunia
2 Mei : Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas
3 Mei : Hari Surya
4 Mei : Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia
8 Mei : Hari lahir Henry Dunant – bapak Palang Merah Sedunia
5 Mei : Hari Lembaga Sosial Desa (LSD)
11 Mei : Hari POM – TNI
17 Mei : Hari Buku Nasional
19 Mei : Hari Korps Cacat Veteran Indonesia
20 Mei : Hari Kebangkitan Nasional atau Harkitnas
21 Mei : Hari Peringatan Reformasi
31 Mei : Hari Anti Tembakau Internasional

Juni :

1 Juni : Hari Lahir Pancasila
1 Juni : Hari Anak-anak Sedunia
3 Juni : Hari Pasar Modal Indonesia
5 Juni : Hari Lingkungan Hidup Sedunia
17 Juni : Hari Dermaga
24 Juni : Hari Bidan Nasional
26 Juni : Hari Anti Narkoba Sedunia
29 Juni : Hari Keluarga Berencana Nasional

Juli :

1 Juli : Hari Bhayangkara
5 Juli : Hari Bank Indonesia
9 Juli : Hari Satelit Palapa
12 Juli : Hari Koperasi
22 Juli : Hari Kejaksaan
23 Juli : Hari Anak Nasional
23 Juli : Hari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)
29 Juli : Hari Bhakti TNI Angkatan Udara
31 Juli : Hari Lahir Korps Pelajar Islam Indonesia (PII) Wati

Agustus :

5 Agustus : Hari Dharma Wanita Nasional
8 Agustus : Hari Ulang Tahun ASEAN
10 Agustus : Hari Veteran Nasional
12 Agustus : Hari Wanita TNI Angkatan Udara (Wara)
13 Agustus : Hari Peringatan Pangkalan Brandan Lautan Api
14 Agustus : Hari Pramuka
15 Agustus : Hari mengudaranya RBTV Asli Jogja
17 Agustus : Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
18 Agustus : Hari Konstitusi Republik Indonesia
19 Agustus : Hari Departemen Luar Negeri Indonesia
21 Agustus : Hari Maritim Nasional
24 Agustus : Hari Televisi Republik Indonesia (TVRI)
30 Agustus : Hari Orang Hilang Sedunia

September :

1 September : Hari Polisi Wanita (Polwan)
17 September : Hari Palang Merah Indonesia (PMI)
8 September : Hari Aksara
8 September : Hari Pamong Praja
9 September : Hari Olahraga Nasional
11 September : Hari Radio Republik Indonesia (RRI)
17 September : Hari Perhubungan Nasional
24 September : Hari Tani
26 September : Hari Statistik
27 September : Hari Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT)
28 September : Hari Kereta Api
29 September : Hari Sarjana Nasional
30 September : Hari Peringatan Gerakan 30 September 1965

Oktober :

1 Oktober : Hari Kesaktian Pancasila
5 Oktober : Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI)
9 Oktober : Hari Surat Menyurat Internasional
10 Oktober : Hari Kesehatan Jiwa
15 Oktober : Hari Hak Asasi Binatang
16 Oktober : Hari Parlemen Indonesia
16 Oktober : Hari Pangan Sedunia
24 Oktober : Hari Dokter Nasional
24 Oktober : Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
27 Oktober : Hari Penerbangan Nasional
27 Oktober : Hari Listrik Nasional
27 Oktober : Hari Blogger Nasional
28 Oktober : Hari Sumpah Pemuda
29 Oktober : Hari Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI)
30 Oktober : Hari Keuangan

November :

6 November : Hari Lahir Brigade Pelajar Islam Indonesia (PII)
10 November : Hari Pahlawan
10 November : Hari Ganefo
12 November : Hari Kesehatan Nasional
14 November : Hari Brigade Mobil (BRIMOB)
14 November : Hari Diabetes Sedunia
21 November : Hari Pohon
22 November : Hari Perhubungan Darat
25 November : Hari Guru

Desember :

1 Desember : Hari AIDS Sedunia
1 Desember : Hari Artileri
3 Desember : Hari Cacat
9 Desember : Hari Armada
10 Desember : Hari Hak Asasi Manusia
12 Desember : Hari Transmigrasi
15 Desember : Hari Infanteri
19 Desember : Hari Bela Negara
22 Desember : Hari Ibu
22 Desember : Hari Sosial
22 Desember : Hari Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD)

Selasa, 21 Desember 2010

AnaLogi Ke-AdiL-an Sederhana

ituLah saat dimana aku dan teman - temanku bermain disawah.
bersenda gurau,
memainkan Layang - Layang,
hingga memanjat keLapa muda (Degan).

...seorang temanku berteriak,
Hore..... Semangka... Semangka... Asyik...
aku dan semua temanku gembira,
sebab waktu terik itu bapak membawa semangka untuk kami.

Bapak : "kau bagi rata semangka ini dengan tujuh temanmu"
...baik bapak. jawabku.

ku ambiL pisau dan membeLahnya menjadi delapan bagian,
semua temanku senang,
ada yang menyanyi, berjoget, tertawa Lepas tiada batas,
makLum, saat itu kami masih keLas Lima SD.

seteLah ku potong menjadi deLapan bagian,
Bapak : "sudahkah kau bagi dengan rata...?"
...sudah bapak. jawabku.
Bapak : kaLau begitu, ambiLLah bagian kaLian masing - masing.


Dengan cepat aku mengambiL semangka yang teLah aku potong.
...tanpa aku sadari,
tangan bapak yang kuat Lagi kasar menghampiri pipiku,
...aku menangis, menangis dan menangis karena tamparannya.
tanpa tahu apa sebabnya...

teman - temanku terdiam, hening siang itu.
terdengar bisik - bisik temanku,
sesekaLi kudengar desiran angin, panas hatiku...

Bapak : "jika engkau menjadi pembagi semangka itu, maka bagiLah dengan AdiL."
Aku : "aku teLah membagi semangka itu dengan rata dan sama persis"

Bapak : "jika engkau menjadi pembagi, maka ambiLLah bagianmu terakhir kaLi."
Bapak : "jika membaginya AdiL, engkau tidak buru-buru untuk mengambiL pertama kaLi."

"Anakku, ingatLah seLaLu,

AdiL bukan berarti sama,
AdiL tidak harus rata,
AdiL adaLah menempatkan hak pada yang hak.
______________________________________
_______________________________________________________
__________________________________________________________________________

Sabtu, 18 Desember 2010

Jawa dalam Impitan Teologi

Jawa menyimpan sejuta kearifan dan falsafah kehidupan. Kehidupan orang Jawa yang kental dengan perilaku spiritualnya menandakan kearifan paling tinggi. Sikap yang ditunjukkan wong Jawa merupakan implementasi dari sebuah filosofi kehidupannya.
Jawa terkenal dengan sikap yang penuh kearifan. Dalam kehidupannya, orang Jawa menggunakan olah rasa di setiap tindak tanduknya. Kearifan tersebut diturunkan secara genetik dalam kehidupan bermasyarakat. Kearifan orang Jawa senantiasa diperlihatkan dalam setiap langkah dan cara berkomunikasi. Keramahan merupakan salah satu kearifan yang dihargai betul oleh orang Jawa.
Dalam interaksi kehidupannya, orang Jawa menggunakan batin dan tingkat kepekaannya. Kepekaan tersebut didapatkan dari olah rasa yang panjang dan dilakukan secara kontinu. Olah rasa menjadi fondasi dari segala tindakan yang dilakukan masyarakat Jawa.
Barangkali kita sendiri sering merasakan rasa pakewuh, tidak enak hati, rendah diri, bodoh, dan sebagainya. Sebenarnya rasa tersebut merupakan produk dari olah rasa yang barangkali tidak kita sadari. Niels Mulder (2009) meneliti olah rasa yang dalam masyarakat Jawa merupakan filosofi kehidupan yang paling tinggi. Dari olah rasalah, masyarakat Jawa mampu membentuk kehidupan bermasyarakat yang penuh keharmonisan. Saling menolong, gotong royong, dan bahu-membahu merupakan manifestasi olah rasa tersebut. Hal itu masih bisa kita temukan di masyarakat pedesaan. Sebab masyarakat desa masih kental dengan olah rasa. Tingkat intensitas olah rasa yang dilakukan orang Jawa sangat berpengaruh terhadap tindakannya.
Olah rasa merupakan aktivitas batin yang dilakukan guna mencari sebuah kearifan laku (Paul Stange, Politik Perhatian, Rasa dalam Kebudayaan Jawa; 2009). Orang akan mencapai tingkat spiritual tinggi jika olah rasa yang dilakukannya benar-benar efektif. Pemberdayaan olah rasa akan menghantarkan manusia kepada derajat yang lebih tinggi. Dalam budaya Islam, tingkat spiritualitas didapatkan dari pengisian sifat-sifat ilahi dalam batin. Pengisian tersebut bisa dilakukan dengan cara melakukan ajaran-ajaran agama.
Olah rasa ini akan menghantarkan manusia pada tingkatan budi yang lebih tinggi. Sifat kecongakan dan nafsu akan sirna dengan seringnya olah rasa yang dilakukan. Sebab olah rasa memosisikan diri si pelaku kepada posisi di luar dirinya sendiri. Olah rasa yang paling tinggi ialah dengan meleburkan jiwa kepada Tuhan sehingga yang didapatkan dari olah rasa ini adalah sebuah penyatuan manusia dengan Tuhan. Manunggaling kawula gusti merupakan tingkatan spiritual yang sangat tinggi. Hal itu hanya bisa diperoleh dengan olah rasa. Dengan demikian, olah rasa menjadi medium paling tepat digunakan untuk bertemunya manusia dengan Tuhannya.
Syeh Siti Jenar yang dikenal dengan tingkat spiritualitas tinggi membutuhkan waktu yang lama untuk berolah rasa. Pencarian Tuhan ia temukan dengan mengesampingkan sifat manusia. Jika seseorang mampu meleburkan dirinya dalam sifat ketuhanan maka yang akan ia lihat hanyalah Tuhan. Tidak ada yang dilihatnya di dunia ini kecuali Tuhan. Di mana pun ia berada yang dilihat hanyalah Tuhan. Tak pelak jika kemudian Syeh Siti Jenar menampakkan perilaku yang tak sama dengan manusia lainnya.
Hal ini juga dialami Syeh Mutamakkin yang makamnya berada di Pati. Dengan tingginya tingkat spiritual yang ia dapatkan, ia harus berurusan dengan pengadilan Prabu Mangkurat IV (S Soebardi, Serat Cebolek, Kuasa Agama, Pembebasan; 2004).
Olah rasa yang berujung pada tingginya tingkat spiritualitas terkadang direspons negatif oleh khalayak. Sebab perilaku orang yang telah mengalami puncak spiritualitas, ia akan menampakkan perilaku yang tak sama dengan masyarakat pada umumnya. Ia dipandang nyeleneh, berbeda dan menyesatkan, sehingga mereka kerap mengalami tragedi.

Keharmonisan
Olah rasa dalam kehidupan bermasyarakat menitikberatkan pada sebuah tatanan sosial yang dipenuhi kearifan dan kebijaksanaan. Keharmonisan dan keselarasan hidup merupakan prioritas utama dalam olah rasa sehingga orang Jawa terkenal dengan keramahannya terhadap kaum pendatang. Masyarakat Jawa sangat permisif dengan kebudayaan asing yang masuk di Jawa. Pintu rumah orang Jawa selalu terbuka lebar untuk siapa saja yang ingin bertamu. Dengan berprinsip keselarasan, orang Jawa mau menerima kebudayaan asing yang dinilai baik. Olah rasa ini menghantarkan masyarakat Jawa dengan sifat eksklusifnya. Masyarakat Jawa tidak menolak kebudayaan asing yang mampu menghantarkan hubungan harmonis dalam kehidupan sosial. Akan tetapi, mereka tetap menjaga kebudayaannya sendiri yang masih relevan dan dipandang mampu mendatangkan kebaikan bermasyarakat.
Olah rasa sekarang ini kerap dikesampingkan oleh kebanyakan masyarakat. Olah rasa sejatinya menginginkan tatanan sosial yang penuh ketenteraman. Konflik yang kerap terjadi di kalangan masyarakat Jawa acap kali menimbulkan sebuah ketakutan dan trauma mendalam dalam kehidupan orang Jawa (F Budi Hardiman; 2005). Dengan demikian, prasangka menjadi fenomena yang lumrah. Prasangka ini akan menimbulkan konflik yang tak akan pernah usai. (Alo Liliweri; 2009)
Olah rasa yang seharusnya bisa menjadi media persatuan, keselarasan, dan keharmonisan hidup ternyata sekarang sulit diidentifikasi. Olah rasa yang dilakukan mayoritas masyarakat sekarang sering diwarnai prasangka negatif. Dengan dalih waspada, prasangka ini diamini khalayak.
Ko Pin Ho pernah mencontohkan dalam karya fenomenalnya bahwa prasangka hanya akan menimbulkan konflik dan perpecahan. Masyarakat Jawa sekarang sudah tak lagi memiliki karakter yang diamsalkan Ko Pin Ho dalam tokoh novelnya, Bukek Siansu. Bocah ajaib yang menjadi tokoh dalam novel ini seharusnya bisa menginspirasi masyarakat. Sin Liong, si bocah ajaib yang penuh kebijaksanaannya, bisa menjadi amsal yang akan menghantarkan masyarakat pada ketenteraman. Namun, hal tersebut harus bisa terefleksikan dalam setiap individu masyarakat sekarang.

Oleh: M ABDUL ROHIM Esais dan Wakil Direktur Paradigma Institute Kudus, Jawa Tengah

Kamis, 16 Desember 2010

Ancaman Baru di Era Twitter dan Facebook




Siapa tak kenal Facebook dan Twitter?
Pengguna Internet era ini pasti nyaris tak bisa lepas dari dua ajang gaul dunia maya itu. Facebook dan Twitter merupakan implementasi dari web 2.0.
Apa itu web 2.0? Ini merupakan generasi terkini yang paling mendunia dari web, di mana semua pengguna web dapat mempublikasikan dan menerima informasi secara bebas, untuk saling berkolaborasi dan sosialisasi. Jika di era web 1.0 kita hanya dapat mengakses informasi saja, dengan segala keterbatasannya, maka di web 2.0 kita dapat membagikan informasi yang kita punya, baik itu bersumber dari kita sendiri atau dari sumber lain. Kita juga dimungkinkan langsung berinteraksi dengan sesama pengguna web.

Dengan semua kelebihan itu, tak heran jika web 2.0 membuat banyak orang tertarik menggunakan Internet. Mereka yang awalnya tidak kenal dunia maya, menjadi penasaran dan ingin mencoba, sebab kehebohan daya tarik web 2.0 ini.
Memang menyenangkan, bahkan mencandui sebagian orang. Sehari saja tidak mengakses Facebook atau Twitter, rasanya ada yang kurang. Sayangnya masih banyak orang belum sadar bahwa semua kemudahan berbagi dan mengakses informasi itu disertai dengan ancaman lain, yaitu malware yang juga memanfaatkan celah-celah yang ada.

Seperti kita tahu, beragam aplikasi web 2.0 tidak hanya digunakan di rumah, namun juga di lingkungan korporat. Berarti ada banyak data penting perusahaan yang dapat menjadi target para pencipta malware. Pengguna sendiri tidak sadar bahwa dirinya menjadi target serangan, karena terlalu asik menikmati banyak kemudahan, bahkan juga asik bersosialisasi memperluas jejaring pertemanan maupun bisnis.
Yang lebih parah adalah jika pengguna tidak tahu kalau dirinya justru membantu serangan tersebut dan juga menjadi korbannya. Dari laboratorium virus kami, terlihat bahwa jejaring sosial kian popular menjadi sasaran pembuat malware. Setiap tahun, jumlah sampel malware yang berhubungan dengan jejaring sosial berlipatganda dibanding tahun sebelumnya.

Konsep anyar yang ditawarkan web 2.0 adalah mengubah gaya navigasi klasik menjadi jauh lebih interaktif. Bahkan pengguna bisa terus berhubungan melalui web 2.0 dengan perangkat bergeraknya seperti ponsel. Ya, ini seperti pemahaman di mana manusia terus menerus terhubung satu sama lain dengan web 2.0 sebagai medianya, dan beragam perangkat canggih yang mendukung. Di mana saja, kapan saja.

Malware sebelum web 2.0

Kini kita coba telaah apa yang membuat malware ikut menjadikan web 2.0 sebagai sasaran utamanya. Bagaimana malware menyebar sebelum era web 2.0?
Perjalanan virus komputer dan malware kira-kira sama dengan perjalanan informasi itu sendiri. Di masa lalu, informasi secara fisik dipindahkan dari satu komputer ke komputer lain menggunakan media penyimpanan yang bervariasi. Pada awal tahun 1980-an, informasi menyebar melalui jejaring data pribadi yang mahal. Baru kemudian perlahan jaringan tersebut mulai digunakan oleh kalangan pebisnis untuk email dan transmisi informasi. Pada akhir dekade 1990 mulai banyak kasus serangan virus pada komputer di ranah pribadi dan bisnis, yang biasanya menyerang melalui email.

Tanpa terasa World Wide Web begitu cepat berkembang menjadi sebuah platform yang sangat bernilai bagi pertukaran informasi, perdagangan global, dan produktivitas dunia kerja. Perlahan tapi pasti, kita sadar bahwa tak semua informasi bisa kita bagi ke semua orang. Di sinilah kita ketahui bahwa informasi menjadi sangat berharga, hanya layak dibagikan ke pihak tertentu dan menjadi berbahaya ketika bocor atau rusak.

Selama itu juga muncul yang disebut dengan Era worm internet, dimana terjadi serangan Code Red, Blaster, Slammer dan Sasser ke sejumlah jaringan korporat. Tidak ketinggalan virus Melissa yang juga menyerang email, serta datang melalui pesan instan atau aplikasi peer-to-peer. Semua menargetkan Microsoft, sebab memang sistem operasi itu paling banyak dipakai. Mereka menghadapi semua serangan itu dengan penambahan firewall, dam menjalankan sejumlah mekanisme mitigasi anti-worm. Pengguna juga diajak untuk rajin memperbarui aplikasi pengaman Windows.

Mengapa web 2.0 Menjadi Sasaran Empuk Malware dan Penjahat Cyber? Dalam tahun-tahun terakhir, situs jejaring sosial menjadi salah satu sumber informasi paling popular di Internet. RelevantView dan eVOC Insights memprediksi bahwa pada tahun 2009 situs jejaring sosial digunakan oleh 80 persen pengguna Internet seantero dunia, yang artinya lebih dari satu miliar orang.
Pertumbuhan popularitas ini sudah pasti diketahui oleh para penjahat krinimal dunia maya. Maka tak heran sejumlah situs menjadi sasaran utama malware dan spam, di samping sejumlah tindak kejahatan lain.

Situs jejaring sosial seperti Facebook, MySpace atau Twitter, telah memukau jutaan pengguna Internet, sekaligus juga pelaku kriminal cyber.

Separah apakah serangan terhadap jejaring sosial ini? Pada Januari 2008, sebuah aplikasi Flash bernama Secret Crush yang berisi link ke program AdWare terdapat pada Facebook. Lebih dari 1,5 juta pengguna mengunduhnya sebelum disadari oleh administrator situs.

Kaspersky Lab pada Juli 2008 mengidentifikasi sejumlah insiden yang melibatkan Facebook, MySpace dan VKontakte. Net-Worm.Win32.Koobface. menyebar ke seluruh jaringan MySpace dengan cara yang sama dengan Trojan-Mailfinder.Win32.Myspamce.a, yang terdeteksi di bulan Mei.

Twitter tak kalah jadi target, ketika pada Agustus 2009 diserang oleh penjahat cyber yang mengiklankan video erotis. Ketika pengguna mengkliknya, maka otomatis mengunduh Trojan-Downloader.Win32.Banload.sco. LinkedIn juga tak luput dari serangan malware pada Januari 2009, dimana penguna ditipu agar mengklik profil sejumlah selebriti, padahal mereka sudah mengklik link ke media player palsu. Sebulan kemudian YouTube menjadi incaran malware.

Bulan Juli 2009 kembali Twitter menjadi media infeksi modifikasi New Koobface, worm yang mempu membajak akun Twitter dan menular melalui postingannya, dan menjangkiti semua follower. Semua kasus itu hanya sebagian dari begitu banyak kasus penyebaran malware di seantero jejaring sosial.

Ancaman di era web 2.0

Akhir tahun 2008 Kaspersky Lab mengumpulkan lebih dari 43.000 file berbahaya yang berhubungan dengan situs jejaring sosial. Salah satu worm yang paling terkenal menyerang situs jejaring sosial adalah Koobface yang terdeteksi sebagai Net-Worm.Win32.Koobface. Worm ini popular saat sekitar setahun lalu menyerang akun Facebook dan MySpace.

Struktur umum serangan ke web 2.0 biasanya terdiri dari tiga langkah. Pertama, pengguna menerima link dari teman berupa informasi menarik, misalnya video klip. Kedua, pengguna diminta untuk menginstal program tertentu agar bisa menonton video itu. Ketiga, setelah diinstal, program ini diam-diam mencuri akun pengguna dan meneruskan trik serupa ke pengguna lain

Metode itu hampir sama dengan cara worm menyebar melalui email. Worm yang terdistribusi melalui situs jejaring sosial hampir 10 persen sukses menginfeksi. Koobface juga memberi link ke program antivirus palsu seperti XP Antivirus dan Antivirus2009. Program spyware tersebut juga mengandung kode worm.

Ancaman ke situs jejaring sosial jauh lebih mengerikan dari ke email. Mengapa? Selain terinfeksi worm, akun yang bersangkutan juga menjadi korban botnet, bahkan si pemiliknya juga terkena imbasnya. Botnet mampu mencuri nama dan pasword pengguna, lalu menyebarkan pesan palsu yang mampu merugikan pihak lain, seperti permintaan transfer uang. Jadi yang menjadi korban bukan hanya akunnya, melainkan pemilik akun itu sendiri, serta pihak lain yang dikirimi pesan palsu.

Sisi lemah manusia

Satu hal paling penting dari serangan terhadap web 2.0 adalah faktor komponen kelemahan manusia, terutama ketika berhadapan dengan pengguna yang tidak paham bahwa komputernya sudah terinfeksi.

Situs jejaring sosial masa kini menawarkan kostumisasi tambahan dan fungsi berfitur kaya untuk berbagi konten personal, file foto, atau multimedia dengan sebanyak mungkin orang di dunia maya. Situs ini memungkinkan pengguna berbagi pikiran dan minat dengan sesama teman atau komunitas. Secara umum, pengguna situs jejaring sosial saling percaya satu sama lain. Ini artinya jika mereka menerima pesan dari temannya, maka akan langsung mengkliknya begitu saja tanpa kecurigaan pesan itu sudah disisipi oleh malware.

Hari ini masih banyak orang yakin bahwa menggunakan browser Web sama dengan melakukan window shopping atau pergi ke perpustakaan di dunia nyata. Takkan ada yang terjadi tanpa sepengetahuan mereka. Padahal di Web, sekali saja kita mengklik link yang salah, atau tanpa disengaja, maka sama artinya sudah mempersilakan pencuri atau pengintai masuk ke rumah kita. Ya, pencuri atau penyadap di dunia maya tidak kasat mata seperti halnya di dunia maya.

Ambil contoh, aplikasi penyingkat URL yang sering diperlukan di mikroblog seperti Twitter. Karena katakter pesan hanya dibatasi hingga 140 karakter, maka pengguna harus menggunakan aplikasi penyingkat URL saat menyisipkan link ke situs lain. Aplikasi penyingkat URL seperti TinyURL, Is.gd atau Bit.ly tidak akan memperlihatkan nama URL yang sesungguhnya. Cukup keterangan saja dan link yang sudah mereka ringkas.
Bayangkan jika akun si pengguna sudah disusupi Botnet tanpa ia sadari. Botnet akan menggunakan akun Twitter-nya, memposting "Klik foto saya yang imut ini" lalu diikuti URL yang sudah diringkas, maka teman-temannya akan langsung mengklik. Malware yang terkandung dalam link itu akan membawa si korban ke situs lain yang memang sudah dipersiapkan untuk"menjebaknya".

Situs jejaring sosial seperti Facebook biasanya berkolaborasi dengan situs-situs lain agar bisa saling terkoneksi. Mereka ini disebut sebagai partisi ketiga, alias pihak ketiga setelah facebook itu sendiri, dan penggunanya. Banyak kasus dimana partisi ketiga justru dijadikan vektor alias "kendaraan" dari penyerang.

Ada dua pertanyaan yang bisa kita ajukan untuk mendalami masalah ini. Berapa banyak pengguna Facebook menambahkan aplikasi partisi ketiga di profilnya? Berapa banyak yang mereka ketahui mengenai apa yang sesungguhnya dilakukan oleh aplikasi partisi ketiga itu?

Di atas kertas, para pakar mengatakan bahwa Facebook maupun jejaring sosial lain harus memikirkan ulang cara mereka mendesain dan mengembangkan application programming interface (API). Disebutkan bahwa provider jejaring sosial semestinya berhati-hati dalam mendesain platform dan API. Mereka harus hati-hari dengan teknologi sampingan yang dipakai para klien, misalnya JavaScript. Operator situs jejaring sosial sebaiknya memiliki developer yang cukup ketat dalam penggunaan API, yaitu yang mampu memberi akses ke sumber yang hanya benar-benar berhubungan dengan sistem.

Setiap aplikasi yang berjalan di situs jejaring sosial juga semestinya ada di lingkungan terisolasi untuk mencegah interaksi aplikasi dengan host Internet lainnya yang tidak berpartisipasi dalam situs tersebut.

Isu Privasi

Malware bukan hanya satu-satunya masalah ketika kita bicara mengenai situs jejaring sosial. Bagaimana data-data pribadi para pengguna bisa aman adalah pertanyaan lainnya. Lalu, seberapa susahnya sesungguhnya kita melindungi diri sendiri dan data-data kita di situs jejaring sosial?

Ketika orang jahat mendesain serangannya dengan apik, maka para pengguna perlu meningkatkan standar kewaspadaan keamanannya. Advis seperti "Jangan membuka file yang diterima dari sumber yang tidak diketahui" sudah tak lagi berguna, sebab aktivitas serangan sudah mampu menyamar dalam identitas teman yang kita kenal baik. Ini artinya kita bahkan tidak bisa mempercayai pesan atau file yang dikirimkan teman kita sendiri.

Salah satu lapisan perlindungan yang bisa ditambahkan ke browser adalah yang dapat mencegah eksploit. Pengguna sebaiknya melindungi dirinya dari worm XSS dengan hanya mengizinkan eksekusi kode JavaScript dari sumber terpercaya. Pengguna juga semestinya seminim mungkin berbagi alamat pribadi seperti nomor telepon, alamat rumah, dan informasi personal lain.
Memang agak sulit membatasi mana yang boleh dibagi dan yang tidak di situs jejaring sosial. Pada dasarnya setiap orang butuh privasi di belantara dunia maya. Jangan sampai juga kita menjadi korbam trik phishing klasik, terutama ketika muncul laman situs baru saat mengklik aplikasi partisi ketiga yang meminta kita melakukan log-in mengisikan nama, dan sejumlah data pribadi lain. Jika kita ragu atas keaslian laman itu, ada bagusnya kita kembali ke laman asli Facebook dengan mengetik ulang www.facebook.com.

Memang dibutuhkan perlindungan banyak lapis. Solusi keamanan Internet seperti anti-malware adalah pilihan terbaik, namun itu pun diperlukan update yang intens. Pengguna harus terus meningkatkan kewaspadaan dan tingkat keamanannya, sebab penyerang juga akan terus memperbanyak strategi.

Semua kasus yang kita bahas di atas hanya sebuah awal saja. Serangan terhadap situs jejaring sosial kini sudah ada dalam beragam tingkatan, mulai dari malware sampai phishing. Pelaku kriminal dunia cyber akan menggunakan vektor ke web 2.0 lebih dan lebih banyak lagi demi menyebarkan aplikasi berbahayanya. Namun evolusi serangan ke web 2.0 akan seiring juga dengan evolusi yang dilakukan web 2.0 itu sendiri.

Berikut adalah evolusi yang tengah terjadi pada web 2.0. Pertama, Mobilitas. Baik konten maupun tampilan untuk mengaksesnya akan lebih mobile, sehingga keterhantungan pada hardware untuk mengakses serta lokasi fisiknya akan berkurang. Makin bervariasi platform yang dipakai akan mempersulit pembuat malware untuk menerobosnya. Mereka akan kesulitan mengenai sistem operasi dan hardware apa yang akan dipakai si pengguna,.

Kedua, lokalisasi dan kontekstualisasi. Konten dan interface mobile membuat layanannya menjadi lebih baik bagi si pengguna. Semua disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Penjahat cyber mau tak mau juga akan memberlakukan perubahan paradigma ini untuk meningkatkan serangannya.

Ketiga, interoperabilitas. Jejaring sosial memungkinkan kita terkoneksi satu sama lain, maka harus ada sistem keamanan yang dibangun oleh jejaring dan penggunanya sendiri. Problem keamanan ini bisa mudah ditingkatkan jika jejaring sosial itu mulai menyatukan layanannya.


Artikel ini dipublikasikan dengan izin AVAR (Anti Virus Asia Researchers) di Nusa Dua, Bali.

Senin, 13 Desember 2010

Mbah Surip dan WS Rendra


Ketika defisit kejujuran dalam pemilu dan defisit kompetensi KPU digelar di Mahkamah Konstitusi, dan ketika defisit integritas bagai virus babi menyerang sistem imunitas KPK, Mbah Surip dan WS Rendra menyelinap pergi dari panggung diskursus publik. Padahal, sebagai ”suara liyan”, sebagai alterity, sebagai-katakanlah-"suara hati bangsa”, fungsi mrk justru sedang amat dibutuhkan dalam diskursus publik kita.


Alteritas

Sebagai figur publik, Mbah Surip dan WS Rendra telah menyumbangkan ”suara lain” atau alteritas, yang terkesan ”urakan” dan ”bohemian” bagi kehidupan dan aspirasi normal rata-rata manusia Indonesia. Alteritas inilah yang memungkinkan manusia Indonesia lepas dari sikap one in one yang banal. Alteritas ini memampukan kita mengkritisi hidup ”yang normal”, yang familiar atau praktik business as usual. Alteritas ini memungkinkan publik memasuki ”monolog yang dialogis” atau situasi two in one dalam kehidupan batiniah kita, yang dalam bahasa sederhana dieja sebagai ”hati nurani” atau ”suara hati” (Arendt, 1978: 193).

Selain dari sepak terjang Mbah Surip dan WS Rendra, ”monolog yang dialogis” pada tataran sosial dan politik semacam itu juga dapat dilihat pada buku-buku harian Ahmad Wahib, Soe Hok Gie, dan Pramoedya Ananta Toer. Pada tataran religius, konsep ”manusia soliter” dalam buku Alfred North Whitehead, Mencari Tuhan Sepanjang Zaman, tampaknya juga berhubungan erat dengan kemampuan mengambil jarak dari ”yang normal” ini. (Whitehead/Nugroho, 2009: 7, 26). Alteritas dlm ”monolog yg dialogis” yang dialami para manusia soliter tak lain ialah apa yg oleh Levinas disebut”Liyan yg Mutlak”. Pngalaman alteritas dlm hati nurani para manusia soliter itu tlah mmbawa prkembangan dr ”agama suku” ke ”agama universal”.

Cara Mbah Surip mengambil jarak dari ”yang normal” memang menarik, terlepas dari apakah itu disengaja atau tidak. Rambut dibiarkan gimbal, penutup kepala berwarna-warni, pakaian sekenanya, ke mana-mana naik ojek, barang tentu disengaja. Namun, yang lebih menarik ialah bagaimana Mbah Surip mencemoohkan pembedaan antara ”fakta” dan ”fiksi”, antara ”dongeng” dan ”kenyataan”, antara ”bercanda” dan ”bersungguh-sungguh”. Menghadapi orang macam Mbah Surip memang tak lagi penting untuk melakukan cek dan ricek, cover both side, dan rumus-rumus. Maka, jadilah dongeng Mbah Surip sebagai fakta dan fakta Mbah Surip sebagai dongeng.

Baca saja berita dan liputan tentang riwayat hidupnya dari berbagai sumber. Mbah Surip sebagai fakta yang diacu oleh berita-berita itu seakan licin bagai belut sehingga data kehidupannya pun seperti simulacrum, realitasnya seperti hiper-realitas. Mbah Surip seperti mencemooh kita, bahwa apa yang kita anggap sebagai realitas politik sebenarnya hanya reality show dalam arti permainan citra dan emosi, dan apa yang kita cari sebenarnya bukan berita atau informasi, tetapi infotainment.

Retorika cemooh

Perbedaan antara orang macam Mbah Surip dan para ”pembohong publik” yang juga banyak hadir dalam diskursus publik kita ialah pada apa yang disebut Rorty ”retorika cemooh” (rhetoric of mockery) (Rorty, 1989). Mbah Surip dan WS Rendra mewakafkan hidupnya untuk secara sadar mencemooh dan menertawakan diri dan masyarakat di mana mereka tinggal. Bacalah sajak-sajak Rendra, ”Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta” atau ”Nyanyian Angsa”, di mana Rendra mencemooh para politisi dan agamawan Indonesia yg biasa berpidato & berkhotbah tetapi tidak biasa walk the talk.

Dengarkan sekali lagi lagu ”Tak Gendong”, yang mencemooh kelas yang naik pesawat, maupun kelas yang naik ojek, sambil menawarkan ”gendongan” yang lebih mengacu pada hubungan interpersonal yang akrab dan otentik. Mereka yang menggunakan ”Tak Gendong” sebagai RBT (ringback tone) tampaknya mau mengompensasi hilangnya proses tatap muka dalam komunikasi telepon seluler.

Sebaliknya orang-orang yang melakukan ”kebohongan publik” mempraktikkan apa yang oleh Rorty disebut rhetoric of  conviction. Jika dirumuskan dengan cara Hannah Arendt, maka dalam retorika penuh keyakinan ini, manusia tak lagi dibayang-bayangi alteritas. Alteritas dalam batin telah disisihkan, tidak dipedulikan, bahkan kadang dimatikan secara sistematis. Dapat diduga, usaha mematikan alteritas batin secara sistematis ini terjadi pada diri para teroris, terutama para pelaku bom bunuh diri.

Tidak hanya para ”pembohong publik” yang melakukan retorika penuh keyakinan. Orang-orang biasa dan tokoh-tokoh publik lazimnya mempraktikkan retorika ini juga. Kampanye politik yang baru lalu bertaburan dengan retorika keyakinan. Para motivator, komandan militer, penginjil, pendakwah, pemasar, dan pengiklan berbuih-buih mengucapkan retorika keyakinan. Mungkin dapat dikatakan, cara hidup kita yang ”normal” mensyaratkan adanya retorika keyakinan itu, supaya hidup ini dapat memiliki keteraturan, supaya kita dapat mengamalkan dan menghayati ”yang normal”, bukan dalam arti ”rata-rata”, tetapi lebih dalam arti ”memenuhi standar” (norm) keutamaan dan keunggulan (Ricoeur: 2007).

Dalam hal itu pun, kita tetap perlu alteritas batin dan alteritas publik. Pertama, agar kita tetap memiliki nurani dan tidak jatuh dalam banalitas one in one.

Kedua, agar kita dapat menghargai pluralitas sosial atau ”liyan-liyan” dalam masyarakat. Semoga semangat Mbah Surip dan Mas Willie tetap hidup. I love you full.

Alois A Nugroho Guru Besar Filsafat di Fakultas Ilmu Administrasi Unika Indonesia Atma Jaya; Mengajar di Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia

Minggu, 12 Desember 2010

Dan Tuhan Pun Mendongeng

Minggu, 21 November 2010 | 04:02 WIB

Tuhan menciptakan manusia sebab Dia senang mendongeng

Mendongeng adalah bentuk paling awal dari tradisi oral. Kebanyakan dimulai dari kisah yang dipresentasikan dengan kombinasi gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Mendongeng menjadi bagian penting di sebuah masyarakat, bentuk hiburan rakyat yang bisa digabungkan dengan puisi, musik, dan tari-tarian. Dalam perkembangannya, cerita-cerita zaman kuno tersebut diukir, dilukis, disimpan—diharapkan dapat abadi—di batu, tulang, gading, bambu, daun, dan lain-lain. Di zaman sekarang, mendongeng disimpan dalam bentuk kertas dan digital.

Manusia terlahir untuk menyenangi dongeng, terlebih-lebih anak-anak. ”Ceritakan padaku satu kisah” adalah permintaan yang sering diucap oleh siapa saja. Mendongeng adalah bagian yang tak terpisahkan dengan diri manusia sejak masih kecil sampai menjadi besar. Dongeng dapat dengan mudah menerjemahkan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, seperti moral, budaya, dan tingkah laku.

Di tengah kesibukan kaum urban yang semakin tinggi, kehadiran televisi dan benda-benda elektronik lainnya seperti game, handphone, dan iPod dapat menggeser kegiatan mendongeng orangtua kepada anak. Padahal, kemampuan benda-benda tersebut tidak akan berhasil menggantikan kehebatan mendongeng sebagai bagian dari komunikasi antarmanusia yang hangat dan mesra. Ini menjadi hal yang memprihatinkan. Bayangkan bagaimana televisi dapat membuat anak-anak terpaku pada televisi sehingga makan ditelan secepat-cepatnya. Atau meja makan menjadi senyap sebab setiap anak menikmati permainan di game-nya.

Kegiatan ”nan jauh di sana...” sepantasnya dijadikan pengikat kuat relasi antar-anggota keluarga untuk melawan hantaman teknologi yang bersifat individual. Anak-anak yang sakit dan harus tinggal di ranjang dapat dihibur dengan didongengkan, bukan diberikan iPod dan dinyalakan televisi. Keluarga berkumpul di meja makan untuk saling bercerita, bukan di depan televisi.

Mendongeng di Festival Bercerita

Festival Bercerita yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) tanggal 11-14 November menjadi oase kesegaran di antara ratusan keping iklan di mal, koran, dan billboard tentang penjualan barang-barang elektronik yang mempromosikan hiburan bagi manusia-manusia yang kesepian. Festival ini sudah yang kesembilan kalinya diadakan, digagas dan dirintis oleh Dr Murti Bunanta, sosok teguh di balik Kelompok Pencinta Bacaan Anak.

Festival Bercerita IX berlangsung selama lima hari. Program acara diisi penuh dengan agenda mendongeng. Menyaksikan cerita demi cerita yang dipersembahkan oleh anak-anak dan orang dewasa, penonton terpikat. Perhelatan langsung ditujukan pada pokok dan praktiknya, yakni mendongeng, sehingga para peserta bisa merasakan manfaat bagaimana mendongeng dapat menyatukan banyak hati. Lihatlah bagaimana dongeng dapat disampaikan dengan berbagai cara; ada anak usia dua belas tahun yang mendongeng sambil menari dan menyanyi, ada sekelompok anak yang mendongeng dengan berteater, ada Pak Raden yang mendongeng sambil menggambar.

Kelompok Pencinta Bacaan Anak, sebagai salah satu sponsor dan pendukung utama Festival Bercerita, adalah organisasi nirlaba independen, didirikan pada tahun 1987. Sekarang kiprahnya bukan saja sudah menembus dunia internasional, tetapi juga tetap menjadi pemerhati buku cerita anak-anak serta bekerja untuk menyebarkan kerinduan akan dongeng di semua kota terpencil di Indonesia.

Teknik mendongeng

Pada usia berapa kanak-kanak dapat mulai didongengkan? Begitulah pertanyaan yang sering diajukan oleh para orangtua. Jawabannya adalah, ”Sesegera mungkin! Semakin cepat semakin baik.” Bahkan, orangtua sudah dapat mulai membacakan cerita kepada bayi berusia enam bulan. Tentu saja cerita yang dipilih tidak usah terlalu panjang dan penuh dengan kata yang sulit.

Memilih dongeng adalah faktor terpenting bagi orangtua dan pendidik. Memilih dongeng yang tepat bergantung pada usia anak secara umum. Penting bagi orangtua untuk mencari cerita yang dapat dimengerti anaknya serta sesuai dengan tingkat emosi dan spektrum pengalaman si anak yang bersangkutan.

Mendongeng dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantuan atau tidak perlu sama sekali. Karena kegiatan bercerita adalah komunikasi dua arah, kontak mata menjadi jembatan penting bagi si pencerita dan yang mendengarkan cerita. Melatih vokalisasi adalah hal prinsipiil agar suara terdengar jernih dan berjiwa. Tetapi, yang terpenting dari semuanya, seorang pendongeng harus memiliki rasa prcaya diri ketika mmbawakan kisah. Sebab mnjadi pendongeng adalah momen keajaiban-bahkan ketika seorang pndongeng baru saja memulai kalimatnya dengan ”Once upon a time...”.

Mungkin Tuhan juga seperti itu ketika Dia menciptakan manusia.

Oleh; Clara Ng Novelis dan Penulis Cerita Anak

SJAHRIR DAN SOSIALISME INDONESIA


Sutan Sjahrir. ”Bung Kecil” begitu Sjahrir dijuluki, tercatat sebagai tokoh sentral perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya bidang politik dan diplomasi.

Dikenal cerdas, Sjahrir saat berusia 19 tahun mengambil bagian dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Pada usia 36 tahun Sjahrir terpilih sebagai Perdana Menteri I RI.

Piawai di meja perundingan, Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis, lalu berganti nama menjadi Partai Sosialis Indonesia (PSI). Dalam Pemilu 1955, PSI gagal meraup suara yang signifikan. Lima tahun kemudian PSI dibubarkan Presiden Soekarno.

Pada tahun 1963, Sutan Sjahrir resmi ditetapkan sebagai tahanan politik hingga meninggal di Swiss dalam masa pengobatan. Pembubaran PSI dan Masyumi menandai berlakunya masa otoritarian. Hingga akhir rezim Orde Baru, wacana terkait dengan ideologi bangsa yang termanifestasi dalam tatanan ekonomi politik, sistem budaya, dan nilai-nilai idealnya praktis terhenti.

Sosialisme Indonesia

Dalam membicarakan tatanan sosial politik yang ideal, sering hadir kerinduan untuk menemukan jalan tengah antara kapitalisme dan sosialisme. Sjahrir adalah salah satu perintis pencarian jalan itu, yang tertuang dalam konsep Sosialisme Indonesia. Pertanyaannya, mungkinkah ada ”jalan tengah versi Indonesia”? Mungkinkah menyatukan dua isme yang ibarat minyak dan air?

Pertanyaan lebih konkret ialah, perlukah Sosialisme Indonesia? Perlu. Alasannya, agar sisi positif sosialisme sebagai perangkat analisis sosial yang tajam dalam menggambarkan tatanan berkeadilan bisa digabungkan dengan tatanan politis demokratis yang menjadi persyaratan berfungsinya sebuah ekonomi pasar dalam konteks Indonesia.

Di negara-negara kapitalis modern yang maju berlaku demokrasi politik. Namun, tidak demikian halnya dengan demokrasi ekonomi. Pencapaian demokrasi politik secara historis amat penting, tetapi itu kurang lengkap. Ia sekadar demokrasi perwakilan yang pasif, di mana sebagian besar rakyat memilih orang lain untuk bertindak bagi mereka. Juga kekuatan ekonomi tetap terkonsentrasi dan demokrasi ekonomi masih menanti masa depan yang lebih baik.

Sementara itu, eksperimen sosialisme (tepatnya komunisme) Blok Timur telah gagal. Tidak adanya demokrasi politik mengakibatkan krisis politik berujung pada tumbangnya Uni Soviet dan Blok Timur. Tak adanya demokrasi politik ekonomi di negara- negara komunis saat itu, dikemas dalam konteks full employment yang dipaksakan dan perencanaan sentralistis, mengakibatkan stagnasi dan inefisiensi ekonomi dan lemahnya disiplin kerja.

Ketidakpuasan atas dua isme itu memicu pencarian alternatif. Secara teoretis, memunculkan berbagai aliran sosialisme. Sosialisme-demokratis adalah salah satu bentuk sosialisme yang menemukan lahan berkembang di beberapa negara industri maju, seperti Jerman dan Swedia. Selain itu, kita pernah mendengar berbagai genre sosialisme, seperti sosialisme-non-marxis, sosialisme-science-movement, dan sosialisme-utopis.

Sosialisme Sjahrir

Dalam catatan sejarah Indonesia, ada empat partai politik yang pernah menyandang nama ”sosialis” sebagai nama dan ideologi resmi partai, yaitu Partai Sosialis yang diketuai Amir Sjarifuddin, Partai Rakyat Sosialis (Paras) yang didirikan dan diketuai Sutan Sjahrir. Lalu, ada Partai Sosialis yang merupakan fusi dari kedua partai itu. Partai inilah yang sejak November 1945 menguasai kabinet RI hingga pertengahan 1947, saat terjadi keretakan antara kelompok Sjahrir dan Amir Sjarifuddin. Sjahrir lalu membentuk partai baru, Partai Sosialis Indonesia (PSI), pada awal 1948, bertahan hingga 1960, saat dibubarkan Soekarno.

Dalam sejarah pergerakan kemerdekaan, kita mengenal para tokoh, termasuk Soekarno dan Hatta, yang berkeyakinan membangun masyarakat dan negeri ini atas prinsip sosialis. Namun, di antara tokoh-tokoh itu, mungkin hanya Sjahrir yang paling tegas dan nyata dalam keyakinan dan perjuangan. Ia bukan saja mendirikan partai politik (PSI) untuk mewujudkan keyakinannya, tetapi sebelumnya juga telah memikirkan secara mendalam paham sosialisme apa yang paling cocok untuk Indonesia.

Sjahrir tegas membedakan paham sosialisme yang hendak diperjuangkannya di Indonesia dengan sosialisme yang ada di Eropa Barat maupun sosialisme yang ditawarkan komunis. Pergumulannya atas paham-paham sosialisme di Eropa Barat dan kekhawatirannya akan komunisme totaliter membawanya pada pemikirannya tentang sosialisme yang sesuai bagi Indonesia, yaitu sosialisme-kerakyatan.

Bagi Sjahrir, perkataan kerakyatan adalah suatu penghayatan dan penegasan bahwa sosialisme seperti yang dipahaminya selamanya menjunjung tinggi dasar persamaan derajat manusia.

Dalam catatan sejarah diketahui, cita-cita sosialisme-kerakyatan Sjahrir tidak berhasil diwujudkan. Namun, ketidakberhasilan ini mungkin bukan semata- mata karena Sjahrir tergeser dari panggung politik atau karena PSI dibubarkan. Sosialisme, apa pun namanya, hanya paham, suatu cita-cita yang masih di tingkat konsepsi. Untuk mewujudkan cita-cita itu, ia harus dibuat operasional dan harus didukung seperangkat institusi dan mekanisme-mekanisme tertentu. Ini bukan hal mudah. Tanpa itu, ia akan berhenti pada imbauan moral atau etis, tetapi tidak membawa perubahan apa-apa.

Oleh: IVAN A HADAR Wakil Pemimpin Redaksi Jurnal SosDem

AsmauL Husna

1 ar-Rahmaan Yang Maha Pemurah
2 ar-Rahiim Yang Maha Pengasih
3 al-Malik Maha Raja
4 al-Qudduus Maha Suci
5 as-Salaam Maha Sejahtera
6 al-Mu'min Yang Maha Terpercaya
7 al-Muhaimin Yang Maha Memelihara
8 al-'Aziiz Yang Maha Perkasa
9 al-Jabbaar Kehendaknya Tdk Bisa Diingkari
10 al-Mutakabbir Yang Memiliki Kebesaran
11 al-Khaaliq Yang Maha Pencipta
12 al-Baari' Yang Mengadakan dari Tiada
13 al-Mushawwir Yang Membuat Bentuk
14 al-Ghaffaar Yang Maha Pengampun
15 al-Qahhaar Yang Maha Perkasa
16 al-Wahhaab Yang Maha Pemberi
17 ar-Razzaq Yang Maha Pemberi Rezki
18 al-Fattaah Yang Maha Membuka (Hati)
19 al-'Aliim Yang Maha Mengetahui
20 al-Qaabidh Yang Maha Pengendali
21 al-Baasith Yang Maha Melapangkan
22 al-Khaafidh Yang Merendahkan
23 ar-Raafi' Yang Meninggikan
24 al-Mu'izz Yang Maha Terhormat
25 al-Mudzdzill Yang Maha Menghinakan
26 as-Samii' Yang Maha Mendengar
27 al-Bashiir Yang Maha Melihat
28 al-Hakam Yang Memutuskan Hukum
29 al-'Adl Yang Maha Adil
30 al-Lathiif Yang Maha Lembut
31 al-Khabiir Yang Maha Mengetahui
32 al-Haliim Yang Maha Penyantun
33 al-'Azhiim Yang Maha Agung
34 al-Ghafuur Yang Maha Pengampun
35 asy-Syakuur Yang Menerima Syukur
36 al-'Aliyy Yang Maha Tinggi
37 al-Kabiir Yang Maha Besar
38 al-Hafiizh Yang Maha Penjaga
39 al-Muqiit Yang Maha Pemelihara
40 al-Hasiib Maha Pembuat Perhitungan
41 al-Jaliil Yang Maha Luhur
42 al-Kariim Yang Maha Mulia
43 ar-Raqiib Yang Maha Mengawasi
44 al-Mujiib Yang Maha Mengabulkan
45 al-Waasi' Yang Maha Luas
46 al-Hakiim Yang Maha Bijaksana
47 al-Waduud Yang Maha Mengasihi
48 al-Majiid Yang Maha Mulia
49 al-Baa'its Yang Membangkitkan
50 asy-Syahiid Yang Maha Menyaksikan
51 al-Haqq Yang Maha Benar
52 al-Wakiil Yang Maha Pemelihara
53 al-Qawiyy Yang Maha Kuat
54 al-Matiin Yang Maha Kokoh
55 al-Waliyy Yang Maha Melindungi
56 al-Hamiid Yang Maha Terpuji
57 al-Muhshi Yang Maha Menghitung
58 al-Mubdi' Yang Maha Memulai
59 al-Mu'id Yang Maha Mengembalikan
60 al-Muhyi Yang Maha Menghidupkan
61 al-Mumiit Yang Maha Mematikan
62 al-Hayy Yang Maha Hidup
63 al-Qayyuum Yang Maha Mandiri
64 al-Waajid Yang Maha Menemukan
65 al-Maajid Yang Maha Mulia
66 al-Waahid Yang Maha Tunggal
67 al-Ahad Yang Maha Esa
68 ash-Shamad Yang Maha Dibutuhkan
69 al-Qaadir Yang Maha Kuat
70 al-Muqtadir Yang Maha Berkuasa
71 al-Muqqadim Yang Maha Mendahulukan
72 al-Mu'akhkhir Yang Maha Mengakhirkan
73 al-Awwal Yang Maha Permulaan
74 al-Aakhir Yang Maha Akhir
75 azh-Zhaahir Yang Maha Nyata
76 al-Baathin Yang Maha Gaib
77 al-Waalii Yang Maha Memerintah
78 al-Muta'aalii Yang Maha Tinggi
79 al-Barr Yang Maha Dermawan
80 at-Tawwaab Yang Maha Penerima Taubat
81 al-Muntaqim Yang Maha Penyiksa
82 al-'Afuww Yang Maha Pemaaf
83 ar-Ra'uuf Yang Maha Pengasih
84 Maalik al-Mulk Yang Mempunyai Kerajaan
85 Zuljalaal wa al-'Ikraam :
Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan
86 al-Muqsith Yang Maha Adil
87 al-Jaami' Yang Maha Pengumpul
88 al-Ghaniyy Yang Maha Kaya
89 al-Mughnii Yang Maha Mencukupi
90 al-Maani' Yang Maha Mencegah
91 adh-Dhaarr Yang Maha Pemberi Derita
92 an-Naafi' Yang Maha Pemberi Manfaat
93 an-Nuur Yang Maha Bercahaya
94 al-Haadii Yang Maha Pemberi Petunjuk
95 al-Badii' Yang Maha Pencipta
96 al-Baaqii Yang Maha Kekal
97 al-Waarits Yang Maha Mewarisi
98 ar-Rasyiid Yang Maha Pandai
99 ash-Shabuur Yang Maha Sabar
Al-Faatihah: 3
Al-Faatihah: 3
Al-Mu'minuun: 11
Al-Jumu'ah: 1
Al-Hasyr: 23
Al-Hasyr: 23
Al-Hasyr: 23
Aali 'Imran: 62
Al-Hasyr: 23
Al-Hasyr: 23
Ar-Ra'd: 16
Al-Hasyr: 24
Al-Hasyr: 24
Al-Baqarah: 235
Ar-Ra'd: 16
Aali 'Imran: 8
Adz-Dzaariyaat: 58
Sabaa': 26
Al-Baqarah: 29
Al-Baqarah: 245
Ar-Ra'd: 26
Hadits at-Tirmizi
Al-An'aam: 83
Aali 'Imran: 26
Aali 'Imran: 26
Al-Israa': 1
Al-Hadiid: 4
Al-Mu'min: 48
Al-An'aam: 115
Al-Mulk: 14
Al-An'aam: 18
Al-Baqarah: 235
Asy-Syuura: 4
Aali 'Imran: 89
Faathir: 30
An-Nisaa': 34
Ar-Ra'd: 9
Huud: 57
An-Nisaa': 85
An-Nisaa': 6
Ar-Rahmaan: 27
An-Naml: 40
Al-Ahzaab: 52
Huud: 61
Al-Baqarah: 268
Al-An'aam: 18
Al-Buruuj: 14
Al-Buruuj: 15
Yaasiin: 52
Al-Maaidah: 117
Thaahaa: 114
Al-An'aam: 102
Al-Anfaal: 52
Adz-Dzaariyaat: 58
An-Nisaa': 45
An-Nisaa': 131
Maryam: 94
Al-Buruuj: 13
Ar-Ruum: 27
Ar-Ruum: 50
Al-Mu'min: 68
Thaahaa: 111
Thaahaa: 11
Adh-Dhuhaa: 6-8
Huud: 73
Al-Baqarah: 133
Al-Ikhlaas: 1
Al-Ikhlaas: 2
Al-Baqarah: 20
Al-Qamar: 42
Qaaf: 28
Ibraahiim: 42
Al-Hadiid: 3
Al-Hadiid: 3
Al-Hadiid: 3
Al-Hadiid: 3
Ar-Ra'd: 11
Ar-Ra'd: 9
Ath-Thuur: 28
An-Nisaa': 16
As-Sajdah: 22
An-Nisaa': 99
Al-Baqarah: 207
Aali 'Imran: 26

Ar-Rahmaan: 27
An-Nuur: 47
Sabaa': 26
Al-Baqarah: 267
An-Najm: 48
Hadits at-Tirmizi
Al-An'aam: 17
Al-Fath: 11
An-Nuur: 35
Al-Hajj: 54
Al-Baqarah: 117
Thaahaa: 73
Al-Hijr: 23
Al-Jin: 10
Hadits at-Tirmizi

Aku GiLa Sendiri

Cipt: Doel Sumbang


Ho.. ho.. ho.. ho..

Dunia kini semakin tua dan berpenyakitan
Pusing, gatal, flu dan asma, batuk-batuk juga
Penghuninya makin hari makin banyak saja
Penghuninya makin hari makin gila saja

Cara-cara hidupnya seperti cara setan
Hukum-hukum hidupnya seperti hukum hewan

Ho.. ho.. ho.. ho..

Orang-orang besar pintar kini makin ingkar
Orang-orang besar hebat kini makin jahat
Dengan daya pikir singkat ciptakan yang dahsyat
Orang lemah jadi korban dari kepintaran

Di sekelilingku muncul orang-orang berwajah serakah
Sementara dunia kini semakin rapuh

Ho.. ho.. ho.. ho..

Aku satu di antara sekian orang lemah
Yang menjadi korban dari tingkah orang besar

Aku satu di antara penghuni dunia
Yang menjadi korban dari tingkah orang pintar

Dunia makin tua makin berpenyakitan
Manusianya makin gila makin lupa daratan

Ho.. ho.. ho.. ho..

Namun apa boleh buat semua sudah kodrat
Wahai orang-orang besar songsonglah kiamat

Namun apa boleh buat semua sudah kodrat
Wahai orang-orang pintar siap songsong kiamat

Songsong kiamat
Songsong kiamat
Songsong kiamat

Anti NekoLim (Lekra - 1965)


Mari kita bergembira
Suka ria bersama
Hilangkan sedih dan duka
Mari nyanyi bersama
Lenyapkan duka lara
Bergembira semua
La la la la la la la la
Mari bersuka ria

Siapa bilang bapak dari Blitar
Bapak kita dari Prambanan
Siapa bilang rakyat kita lapar
Indonesia banyak makanan

Mari kita bergembira
Suka ria bersama
Hilangkan sedih dan duka
Mari nyanyi bersama
Lenyapkan duka lara
Bergembira semua
La la la la la la la la
Mari bersuka ria

Tukang sayur nama Si Salim
Menjualnya ke Jalan Lembang
Indonesia anti nekolim
Para seniman turut berjuang

Mari kita bergembira
Suka ria bersama
Hilangkan sedih dan duka
Mari nyanyi bersama
Lenyapkan duka lara
Bergembira semua
La la la la la la
Mari bersuka ria

Jalan-jalan ke Surabaya
Lebih cantik memakai pita
Jangan selalu memandang saya
Nanti bisa jatuh cinta
Mari kita bergembira
Suka ria bersama
Hilangkan sedih dan duka
Mari nyanyi bersama
Lenyapkan duka lara
Bergembira semua
La la la la la la la la
Mari bersuka ria

Pagar kawat pagar berduri
Cat basah jatuh di kabel
Kalau niat mencari istri
Saya pilih yang pintar nyambal

Mari kita bergembira
Suka ria bersama
Hilangkan sedih dan duka
Mari nyanyi bersama
Lenyapkan duka lara
Bergembira semua
la la la la la la la la
Mari bersuka ria