Selasa, 25 Januari 2011

Kemandirian Ekonomi

Ketakutan Soekarno, telah menjadi kebanggaan peminpin negeri ini kawan, dimana penghuni bangsa yang besar telah menjadi pelayan, buruh, dan babu di negeri sendiri. Hal ini tidak dapat di pungkiri lagi sebab banyak bukti bahwa bangsa kita adalah bangsa yang bergaya hidup mewah sementara tidak sesuai dengan nilai perjuangan bangsa indonesia.

Sementara itu segala macam kekayaan bangsa (emas, minyak, dll.) yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat, ternyata diberikan begitu saja oleh pemimpin kita yang penghianat itu, kemudian mengakibatkan bangsa kita bergantung pada orang2 asing kaya, investor, atau bahkan kapitalis yang bejat dari negeri kita sendiri, tujuannya tidak lain adalah memperkaya diri sendiri. sungguh kami tidak rela.

Kedepan jika bangsa ini hanya memakai  kemandirian ekonomi yang hanya sebatas jargon politik, maka jangan heran jika ada timor lest - timor lest lain yang bermunculan.

Wahai pemimpin kami, sudah waktunya kita me-nasionasilisasi aset-aset bangsa seperti emas dll. apakah kemudian engkau akan memberikan kekayaan terus-menerus pada orang2 asing...? maka engkau adalah musuh kami, anak bangsa Indonesia. Merdeka!!!
.

Sabtu, 22 Januari 2011

EkasiLa

Gotong Royong

kata yang hampir punah di negeri tercinta ini,
...ada banyak faktor, sehingga gotong royong tidak lagi di amin-i. Salah satu faktornya, karena pola hidup masyarakat indonesia telah lupa akan arti ke-sederhana-a.

Gaya hidup mewah dipertontonkan sedemikian rupa oleh pemerintah, sehingga masyarakat mencontoh meski sesungguhnya tidak sesuai dengan keadaan ekonomi. Berawal dari hal yang sepertinya sepele, yakni gotong royong yang ditingalkan, berimbas pada kebijakan - kebijakan pemerintah yang sembrono, tanpa disadari kebijakan itu adalah tindakan bodoh wakil - wakil rakyat. Bukti ke-tolol-an pemegang wewenan kabijakan adalah memberikan aset kekayaan negara (tambang emas, dll) kepada selain orang indonesia. Maka sungguh, kami Parlemen Nusantara tidak rela karena kekayaan bumi indonesia tidak sepenuhnya dipergunakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Kemudian, manakala gotong royong tidak lagi dijalankan dalam membangun negara, maka kedepan keputusan - keputusan konyol pemerintah akan terus melimpah ruah yang akhirnya NKRI tidak lagi sebagai harga mati, karena diakui atau tidak, NKRI bukan milik perorangan, golongan ataupun kelompok. Apakah di antara kita ada yang menginginkan munculnya Timor-Lest lain...?

Saudara ku, engkau adalah darah ku, tidak ada waktu lagi untuk bermain dalam mengurus bangsa ini, ...ber-gotong-royoong-lah, mari kita abdikan diri ini pada ibu pertiwi.

Sepanjang-panjangnya umur, ada waktu untuk mati.