Rabu, 03 November 2010

MONOLOG PUTU WIJAYA

...................................
Nama Putu Wijaya dalam percaturan sastra drama Indonesia memang sudah tidak asing lagi, sehingga Putu Wijaya yang syarat akan kekuatan penampilan dalam akting dan teaternya, sering kali di tunggu khalayak. Kali ini Putu Wijaya akan tampil untuk pertama kalinya di Banyuwangi di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Banyuwangi.

Dengan penampilannya selama ini, kali ini Putu Wijaya akan mementaskan 3 naskah yang ditulisnya sendiri dan dimainkan dengan penuh kesubliman akting, daya ingat  tinggi, dan daya pikat yang kuat. Tiga naskah monolog itu, “Burung Merak”, “Kemerdekaan”, dan “Poligami”. 
            Yang patut di catat selain dalam setiap penampilannya, ia sangat prima dengan aktingnya memainkan tiga naskah sekaligus tanpa ada turun minum alias istirahat, ia bertahan dengan stamina yang kuat dan memainkan sejumlah karakter yang mempesona dengan monolognya.
Dalam kesempatan ini Putu Wijaya juga akan memberikan diskusi dan workshop. Selain itu diskusi Putu nanti akan membahas secara dalam tentang sastra, dunia penulisan, sampai pada dunia teater dan perkembangannya saat ini.
            Dalam workshop nanti Putu memberikan pola baru dalam implementasi akting bagaimana cara tampil di publik, dengan metoda edukasi teater yang diimplementasikan di kehidupan sehari-hari, maupun dalam presentasi dan cara tampil seseorang. 
            Putu adalah aktor yang kuat. Kecerdasan dia bertutur sangat teratur dan cerdas, sentilan kritik yang cerdik, pola humor intelektual  tinggi. Selama ini penampilan Putu telah menyihir penonton dengan lakon monolognya yang ia bawakan dan ia tulis sendiri serta dimainkan sangat tajam daya pukau, dan ini dipastikan secara perjalanan sejarah monolog di Tanah Air ini adalah yang pertama dilakukan oleh dramawan Indonesia, bahwa Putu pernah membawakan lebih dari 6 naskah monolog sekaligus yang ditulis sendiri, yang bercerita tentang keadilan, kebenaran, kesetaraan, hak-azasi, nasib perempuan, kepemimpinan, moralitas, berbagai ketimpangan sosial, dan lain-lain. 
Monolog bukan lagi ocehan satu orang yang memaksa dan menyiksa pendengar hanya sebagai penonton, tetapi sebuah tontonan yang menampung berbagai suara. Menurut Putu, monolognya ini memang terlalu pendek untuk dapat menyerap, menyimak dan mendapatkan kesimpulan.  Tetapi ia bisa merapat menjadi satu kepalan yang  sama rasa, akan menjadi sebuah langkah yang handal untuk perjalanan panjang yang mungkin tak ada ujungnya.
Lawatan Monolog Putu Wijaya ini juga bertepatan setahun kepulangan WS Rendra, sahabat, yang sekaligus guru Putu yang dikaguminya. “Burung Merak” adalah naskah yang ditulis Putu mengenang Rendra. Kita tahu WS Rendra dikenal juga dengan julukan si burung merak
Pilihan ini juga menjadikan Putu, bahwa kampus dengan para mahasiswa penghuninya, adalah jantung dari proses perubahan sosial-budaya yang memiliki potensi mendorong transformasi budaya menjadi kenyataan.
Berdialog dengan para mahasiswa adalah sebuah kewajiban dan sekaligus hak, untuk membuat seluruh tindakan tertata, terarah dan terkendali dengan tepat. Maka dilaksanakanlah pementasan ini di kampus.
Ini sebuah pertiwa penting dalam perjalanan teater diharapkan dari pertemuan ini adalah kembalinya persaudaraan, saling menghargai, karena batas yang meyekat-nyekat, baik bernama usia, generasi, golongan, suku,  bahkan idiologi dan agama, tak harus mengakibatkan permusuhan yang menghancurkan kenyamanan.
Kita bercakap-cakap tentang kemerdekaan, keadilan, kebenaran, kesetaraan, hak-azasi, nasib perempuan, kepemimpinan, moralitas, berbagai ketimpangan sosial, dengan suara rendah. 
Event ini juga menampilkan pementasan “Perselingkuhan Kata dan Gerak” dari Alang-alang Kumitir oleh Punjul Ismuwardoyo dan Pramoe Soekarno. 

Tidak ada komentar: