“ADA APA DENGAN BUDAYA BANYUWANGI ”
Ada lima kesimpulan, dari beberapa diskusi baik di warung kopi hingga seminar sekalipun. Sesungguhnya apa yang melatarbelakangi adanya Banyuwangi Ethno Carnival ?
Pertama, Ingin Menciptakan Budaya–kah ?
… Maka jawabnya adalah YA.
… Maka jawabnya adalah YA.
Di mulai pada tanggal 22 Oktober 2011 pemerintah kabupaten Banyuwangi sepertinya telah mencanangkan agenda kegiatan BEC untuk tampil satu tahun sekali selama lima tahun ke depan. Menurut Bpk. Hasnan Singodimayan, BEC akan menonjolkan tiga budaya, yakni Gandrung, Kuntulan dan Jinggoan. Bagaimana jika tiga budaya tersebut dijadikan satu, maka sungguh akan muncul sebuah budaya baru. Terlepas apakah budaya baru itu modern atau kebarat – baratan, yang jelas budaya Banyuwangi akan termarjinalkan karena BEC. Lalu mau dikemanakan budaya Gandrung dll? Apakah sudah waktunya dan harus masuk museum ?
Kedua, ingin setenar Jember Fashion Carnival (JFC) –kah ?
… Maka jawabnya adalah YA.
… Maka jawabnya adalah YA.
Jika sering melihat banner (Publikasi BEC) dan membaca koran harian Radar Banyuwangi beberapa hari terakhir terkait kolom “IKUTI… LOMBA FOTO BEC”, maka pada banner dan kolom tersebut dapat digambarkan bahwa BEC meminjam/meniru budaya layaknya JFC.
Menurut Bpk. Subur Bahri, Msi. (Dekan FISIP UNTAG ’45 Banyuwangi) bahwa ada dua kemungkinan manakala Banyuwangi meminjam/meniru budaya lain.
1) Meminjam/meniru budaya karena Banyuwangi memang tidak mempunyai budaya.
2) Meminjam/meniru budaya karena budaya Banyuwangi tidak layak dipertontonkan.
Ketiga, ingin melestarikan budaya lokal–kah ?
… Maka jawabnya adalah TIDAK.
… Maka jawabnya adalah TIDAK.
Kita ketahui bersama, betapa banyak kesenian yang dimiliki masyarakat Banyuwangi, mulai dari Gandrung, Janger, Patrol Caruk (hampir punah), Kuntulan, Jaranan, dll. Namun demikian, ternyata BEC sama sekali tidak mengangkat budaya Banyuwangi.
Keempat, ingin mengenalkan budaya lokal pada dunia–kah ?
… Maka jawabnya adalah TIDAK.
… Maka jawabnya adalah TIDAK.
Terjadi semacam kesalahan berpikir, apabila pemerintah Banyuwangi berusaha sebisa mungkin untuk menarik simpati wisatawan asing dengan mengenalkan budaya yang baru. Memang perlu diacungi jempol terkait program yang tujuannya untuk memperkenalkan semacam identitas Banyuwangi, baik kepada 10 atau 13 negara tetangga, atau bahkan keseluruh dunia, tetapi BEC adalah kebalikan dari itu. Artinya BEC tidak menunjukkan identitas yang dapat mengenalkan dan melestarikan budaya lokal Banyuwangi.
Hal yang paling mendasar dan lebih tepat dilakukan adalah menyediakan fasilitas tempat untuk tampilnya budaya Banyuwangi dan memberikan bantuan pemberdayaan terhadap kelompok – kelompok budaya Banyuwangi untuk terus – menerus melestarikan budaya – budaya lokal. Kausalitasnya ke depan, jika ada wisatawan asing yang tertarik untuk datang ke Banyuwangi, tentu tidak lagi bingung ke mana wisatawan harus menyaksikan budaya Banyuwangi. Sebaliknya jika penyediaan fasilitas tempat dan bantuan pemberdayaan tidak dilakukan, jangan harap sewaktu – waktu warga Banyuwangi dan wisatawan dapat menemukan budaya Gandrung dll.
Kelima, atau–kah ingin memperingati satu tahun kepemimpinan bupati dan wakilnya ?
… Maka jawabnya adalah YA.
Selamat, atas satu tahun pemerintahan bupati dan wakilnya!!!
Kalimat itulah yang lebih pas untuk disampaikan.
Juga tidak lupa, selamatkan APBD dari pesta di atas penderitaan rakyat.
Kalimat itulah yang lebih pas untuk disampaikan.
Juga tidak lupa, selamatkan APBD dari pesta di atas penderitaan rakyat.
Kelima pertanyaan dan jawaban di atas, sudah cukup untuk mengupas BEC.
Kemudian, bukankah Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) adalah penghinaan dan penghianatan terhadap budaya Banyuwangi ?
By : Komunitas Cendekiawan Using
Sekretariat : Jl. Pesucen No. 20 Kalipuro Banyuwangi, Tlp. 085234767696